Kita tidak bersiap-siap saat waktu salat akan tiba.
Kita melalui hari ini tanpa sedikit pun membuka lembaran Alquran lantaran kita terlalu sibuk.
Kita sangat perhatian dengan omongan orang lain tentang diri kita.
Kita selalu berpikir setiap waktu, bagaimana caranya agar harta kita semakin bertambah.
Kita marah ketika ada orang yang memberikan nasihat, bahwa perbuatan yang kita lakukan adalah haram.
Kita terus menerus menunda untuk berbuat baik. “Aku akan mengerjakannya besok, nanti, dan seterusnya.”
Kita selalu mengikuti perkembangan gadget terbaru, dan selalu berusaha memilikinya.
Kita sangat tertarik dengan kehidupan para selebriti.
Kita sangat kagum dengan gaya hidup orang-orang kaya.
Kita ingin selalu menjadi pusat perhatian orang.
Baarokallahu fiikum.
Oleh: Ustadz Ammi Nur Baits hafidzahullah
Terkadang seseorang telah beribadah, namun dikerjakan dengan malas, tidak semangat, & tidak bersungguh-sungguh, ia merasa berat untuk mengerjakannya, sekedar menggugurkan kewajiban, hati pun tidak khusyu, dan seringkali ia futur iman. Kenapa seperti itu ? Karena ketika beribadah ia tidak merasakan nikmatnya ibadah, manis dan lezatnya beribadah...
Adapun sebab2 tidak merasakan nikmat dalam beribadah di antaranya adalah :
[01]. Tidak ikhlas dalam beribadah
[02]. Tidak sesuai dgn sunnah Nabi ﷺ
[03]. Terlalu capek dalam beraktifitas
[04]. Kurangnya rasa cinta kepada Allah
[05]. Tidak berusaha merenungi makna ayat yg dibaca dan mengetahui tafsirnya
[06]. Jarang berdoa kepada Allah agar bisa merasakan nikmatnya beribadah
[07]. Jarang berlindung kepada Allah dari gangguan syaithan dalam beribadah
[08]. Tidak selalu merasa diawasi Allah dalam ibadah yang sedang dilakukan
[09]. Tidak ada rasa khawatir dan takut, seandainya ibadahnya itu tidak diterima
[10]. Tidak menghadirkan hati dan fokus, serta konsentrasi dalam beribadah
[11]. Tidak mengingat kebesaran Allah, kekuasaan-Nya dan juga kebaikan2-Nya
[12]. Jarang mengingat kematian, siksa kubur yang dahsyat dan nikmat kubur
[13]. Jarang mengingat nikmatnya Surga dan ngerinya siksa hukuman api Neraka
[14]. Tidak berusaha menyingkirkan hal2 yang mengganggu konsentrasi; seperti sajadah warna-warni, suara berisik dll
[15]. Mengkonsumsi makanan ataupun minuman yang haram, atau nafkahnya berasal dari penghasilan yang haram
[16]. Tidak berada di belakang seorang imam yg bacaannya bagus, & makmum merasakan rasa takutnya kepada Allah
[17]. Tidak memiliki hati yang bersih
Utsman bin 'Affan رضي الله عنه berkata :
لو أن قلوبنا طهرت ما شبعنا من كلام ربنا وإني لأكره أن يأتي علي يوم لا أنظر في المصحف
"Sekiranya hati-hati kita suci, maka kita tidak akan pernah kenyang dari ucapan Rabb kita. Dan sungguh aku tidak suka, apabila berlalu satu hari tanpa membaca mushaf Al-Qur'an" (Al-Baihaqi di dalam Syu’abul Iman V/237)
[18]. Banyak berbuat dosa dan maksiat
Dzun Nun رحمه الله telah berkata :
سَقَمَ الْجَسَدُ فِي الْأَوْجَاعِ وَسَقَمَ الْقُلُوْبُ فِي الذُّنُوْبِ، فَكَمَا لَا يَجِدُ الْجَسَدُ لَذَّةَ الطَّعَامِ عِنْدَ سَقَمِهِ، كَذَلِكَ لَا يَجِدُ الْقَلْبُ حَلَاوَةَ الْعِبَادَةِ مَعَ الذُّنُوْبِ
"Jasad sakit karena penyakit, dan hati itu sakit karena dosa. Maka sebagaimana jasad tidak akan dapat untuk merasakan lezatnya makan saat sakit, maka begitu pula dengan hati, dia tidak akan mampu utk mengecap nikmatnya ibadah karena berbagai dosa" (lihat Shifatus Shafwah IV/316)
Imam Ibnul Qayyim رحمه الله berkata :
"Tidaklah seorang hamba yg melakukan sebuah dosa, melainkan akan lenyaplah darinya sebuah kenikmatan dari Allah Ta'ala sesuai dengan besarnya dosanya tersebut. Maka jika dia bertaubat serta kembali kepada Allah, niscaya nikmat tersebut, atau yang semisal dengannya nanti akan kembali kepadanya. Namun apabila dia terus menerus berbuat dosa, niscaya nikmat tersebut pun tidak akan kembali kepadanya, serta dosa-dosa itu nanti akan terus melenyapkan sebuah kenikmatan dari seorang hamba hingga mencabut semua kenikmatan" (Thariiqul Hijratain hal 271)
[19]. Cinta dunia yang berlebihan
Imam Ibnu Taimiyah رحمه الله berkata :
الذكر القلب بمنزلة الغذاء للجسد فكما لا يجد الجسد لذة الطعام مع السقم فكذالك القلب لايجد حلاوة الذكر مع حب الدنيا
"Dzikir bagi hati itu seperti kedudukan makanan bagi jasad, maka sebagaimana jasad tdk akan bisa merasakan lezatnya makanan tatkala sedang sakit, demikian pula hati tdk akan merasakan nikmatnya berdzikir saat bersamaan dengan cinta dunia" (Majmu' al-Fatawa IX/312)
[20]. Berlebihan dalam makan & minum
Imam asy-Syaafi'i رحمه الله berkata :
"Aku tidaklah pernah kenyang sejak 16 tahun silam kecuali sekedarnya. Karena kekenyangan membuat badan jadi berat, hati menjadi keras, bisa menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur, serta lemah untuk beribadah" (Siyar VIII/248)
✍️ Ustadz Najmi Umar Bakkar